Sabtu, 02 Agustus 2008

ADVANCE/DECLINE RATIO

Ringkasan
ADVANCE/DECLINE RATIO (“A/D Ratio”) menunjukkan rasio antara jumlah saham yang harganya naik dan jumlah saham yang harganya turun.

Penjelasan
ADVANCE/DECLINE RATIO mirip dengan Advacing-Declining Issues di mana indicator-indikator ini menalpilkan kekuatan psara. Bedanya, Advancing Declining Issues mengurangi jumlah saham yang harganya naik/turun, sedangkan ADVANCE/DECLINE RATIO membagi jumlah saham yang harga naik/turun. Keuntungan dari ADVANCE/DECLINE RATIO adalah hasilnya tetap konstan tidak peduli jumlah saham yang diperdagangkan di pasar saham (yang selalu naik).
Moving average dari ADVANCE/DECLINE RATIO sering digunakan sebagai indicator yang menunjukkan tingkat “overbought atau tingkat oversold. Semakin tinggi nilainya, semakin berbelih tingkat pembeliannya sehingga semakin mungkin terjadi koreksi (yaitu, penjualan). Sebaliknya semakin rendah nilainya, semakin berlebihan tingkat penjualannya, sehingga semakin mungkin terjadi koreksi (yaitu rally atau pembelian).
Namun demikian, pasar yang tampak overbought atau oversold, mungkin akan tetap berada pada tingkat tersebut untuk beberapa waktu. Jika Anda melakukan perdagangan dengan menggunakan indicator overbought/oversold, adalah bijaksana untuk menunggu harga mengkonfirmasi kepercayaan Anda bahwa perubahan bakal terjadi sebelum Anda melakukan perdagangan.
Fluktuasi hari ke hari dari ADVANCE/DECLINE RATIO seirng dieliminasi dengan pemulusan rasio dengan moving average.

Contoh
Grafik ini menunjukkan S&P 500 dan moving average untuk 15 hari dari ADVANCE/DECLINE RATIO.






Anda dapat melihat harga bergerak turun setelah memasuki tingkat oversould diatas 1.25 (tanda “sell”) dan harga mulai rally (bergerak naik) setelah memasuki tingkat oversold di bawah 0.90 (tanda “buy”)

Perhitungan
ADVANCE/DECLINE RATIO dihitung dengan membagi jumlah saham yang harganya naik dengan jumlah saham yang harganya turun.





Tabel 3 menunjukkan perhitungan ADVANCE/DECLINE RATIO.